الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِي
sebelumnya mengucapkan +selamat hari raya Idul Fitri 1433 H..
PERNAH enggak kamu menyadari,
kalo biasanya pas bulan puasa, ada sekumpulan orang depresi yang keliling
kampung sambil berteriak BINAL, “SAHUR!!!SAHUR!!!”?
Udah jadi tradisi di banyak
tempat termasuk di kampung ku, kalo pas bulan Puasa, bakal ada sekumpulan
remaja depresi yang begadang dan ngebangunin para warga buat bangun Sahur. Ini
bukan sebuah kejutan, karena aku termasuk di antara mereka. Bukan, bukan karena
pada dasarnya tin, hingga aku aku orang yang baik hati dan gemar menolong
sesama.(Cuih).
Ada
perbedaan antara cara orang membangunkan Sahur
di kampung dan juga di kota.
Orang-orang di kampung ku, biasa membangunkan dengan cara yang lebih personal. Mereka
bergerombol keliling kampung. Selain teriak “SAHUR!!!SAHUR!!!”,mereka juga
mengetuk rumah penduduk satu persatu, sampai empunya Rumah bangun. Setahu aku,
kalo di kota, orang yang bangunin Sahur
cuman teriak-teriak dari jalan dan terkadang malah sambil maen petasan.
Bukannya warga pada kebangun sahur, yang ada semua pada kena sakit jantung
jadinya.
Aku jadi inget, pengalaman pertama masuk kedalam
komunitas penderita depresi itu untuk ngebangunuin orang Sahur. Pengalaman yang
cukup menggetarkan bahkan aku sempet frustasi dan berencana ganti kelamin
karena pengalamanku ini.
“””””””””””””””
MALEM
itu udara rasanya dingin, mungkin karena habis ujan. Aku yang waktu itu masih
kelas 2 SMP, lagi telentang di atas kasur sambil ngelusin perut. Biasalah, kalo
udah bulan Puasa, apalagi kalo nemu es cendol.
“Ndy,
ada temen kamu tuh.” Ibu tiba-tiba nyamperin aku ke dalam kamar. “Siapa Bu?”
aku menggeliat enggak jelas. Soleh sama
sapa gitu, Ibu lupa namanya.” Abis
ngomong, Ibu langsung keluar kamar lagi. Layaknya seekor kura-kura
kurang diet, aku kepayahan buat bangkit dari posisi telentang itu. Setelah
harus bolak-balik enggak jelas, aku
akhirnya bisa duduk dalam posisi sempurna. Aku sampe keringatan. Mungkin
kalo ada yang liat, aku bakalan di bilang korban pemerkosaan orang utan yang
horny liat poster Sponge Bob.
Di
kursi tamu, Soleh dan Doni sudah anteng
duduk sambil cekikikan enggak jelas, sepantasnya sepasang homo cilik. “Woi!”
aku nyamperin mereka.
“Kenapa kau,Ndy?” Kata Doni yang liat perut ku mendadak
buncit.
“Iya.
Disantet siapa kau?” kata Soleh. “Enggak. Aku cuman kekenyangan.” Aku
ngelus-ngelus perut lagi. “Makan apa aja kau? Makan panci kau ya?” ledek Doni
garing. “Bukan panci, Don, tapi tudung saji yang dia makan.” Soleh menipali
dengan lebih garing. Lalu mereka cekikan lagi. Dalem hati aku hanya bisa
berdoa, semoga penyakit mereka sebagai homo cilik ini bisa sembuh. Mending kalo
penyanyi cilik, artis cilik,pesulap cilik, bahkan tukang parkir cilik, ini
malah homo cilik serem aja.
Ada apa
nih?” aku ikutan duduk di kursi tamu. Sengaja aku duduk dengan ngambil sedikit
jarak dari mereka. Takut ketularan homo juga,
karena dengan susah payah aku tobat jadi homo cilik dan kembali ke jalan
yang lurus. Aku pasti akan di kutuk ibu menjadi botol kecap, kalo beliau nemuin
tiga anak SMP homo lagi bergumul sambil telanjang di ruang tamu rumahnya.
“PAPA!! TOLONG!!” Ibuku teriak sambil ngacung-ngacungi sendok pengorengan pas
liat ada tiga orang anak lagi telanjang.
Soleh
pelukan sama Doni sedangkan aku ngambil posisi 69 dengan patung keramik
nenek-nenek. “Ada apa, Bu? Ada apa?” kata Papa. “Liat, Pa. Ada alien.”Ibu mlai
tiarap di bawah meja.
Hah?
Alien? “ Papa berencana ikutan tiarap. “Iya, Pa. Iya,. Coba liat, mereka punya
hidung ekstra di selangkangan. DISELANGKANGAN!!” Ibu histeris sambil nunjukin
masing-masing “HIDUNG EKSTRA” dari kami
yang pada kenyataan hanyalah titit yang mengerut karena kedinginan. Terus aku
jawab aja, “Maap, anda salah Nyonya. Ini
bukan hidung ekstra. Ini adalah kutil. INI ADALAH KUTIL.”
Ngaco.
Balik lagi ke kunjungan pasangan homo cilik itu ke rumahku itu. “Kita berdua,
mau ngajakin kau, Ndy,” jelas Doni. “Ngajakin kemana?” “Tidur di mesjid, terus
ngebangunin orang sahur, lanjut soleh. Aku lumayan tertartarik dengan ajakan
mereka, karena aku memang enggak pernah tidur di mesjid terus ngebangunin orang
sahur sambil keliling kampung sebelumnya. Ternyata biarpun homo, mereka ada
sisi baiknya juga.
Gimana?
Mau enggak kau, hah?” tanya Soleh. “Ehmm,......”Aku masih ragu. Napa kau? Takut?
Bengak kali lah memang kau ini, bah!” tangtang Doni. Iya, takut kau, Ndy?”
sambung Sole. Dan seperti biasanya, lalu mereka cekikikan serempak. (HIKshiks-hikshiks,,,hiks.........hiks)
دَوَاءُ اْلقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءٍ، قِرَاءَةُ
اْلقُرْآنِ بِالتَّفَكُّرِ، وَخَلاَءُ اْلبَطْنِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ،
وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ.